Dinas Pendidikan Tebing Tinggi Terapkan Daring dan Luring di Tengah Pandemi Corona

0

Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan dua metode proses belajar mengajar (PBM). Dua metode itu yakni model dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring).

“Kita menerapkan sistem PJJ bagi siswa-siswi SMP, SD, TK dan PAUD. Metode yang digunakan model daring dan luring. Ini dilakukan untuk mengakomodasi pendidikan siswa selama pandemi coronavirus disease (Covid-19),” ucap Kepala Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi, Drs H Pardamean Siregar MAP, Senin (3/8/2020).

Model daring, ujar Pardamean, merupakan proses pembelajaran melalui handphone yang menerapkan bantuan akses internet dengan sistem online. “Dalam hal ini, guru melakukan aktivitas belajar melalui beragam media pembelajaran dengan bantuan internet untuk pendampingan belajar,” ungkapnya.

Sedangkan model luring yakni pembelajaran secara offline dengan tidak menggunakan bantuan akses internet, seperti guru kunjung (stay home), penggunaan modul dan buku paket. “Demi kesehatan bersama, Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi melarang sekolah-sekolah memakai pola tatap muka atau  sistem stay home,” tutur pria yang akrab dengan semua kalangan ini.

Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi melarang stay home, sangat beralasan. Soalnya, Tebing Tinggi masuk dalam kategori zona merah wabah corona. Jumlah kasusnya pun meningkat drastis. Tercatat sudah 28 orang terkonfirmasi positif yang kini sedang dalam perawatan medis, 4 meninggal dunia, 7 lagi dinyatakan sembuh. “Tebing Tinggi ini sudah zona merah,” kata Pardamean mengutip data dari Satuan Tugas Covid-19 Tebing Tinggi.

Meski stay home sudah dilarang, sebut Pardamean, masih ada juga pengawas yang coba membuat kelompok-kelompok tatap muka di rumah 3 sampai 4 kali sebulan. Pihak Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi pun berulang kali melarang. “Ada di sini, baru-baru ini mau mencoba mengadakan itu (stay home) belajar tatap muka di rumah, tetap kita larang. Kalau bandel, tanggung risiko masing-masing. Sebab, kalau nanti ada hal-hal tak diinginkan, siapa yang bertanggung jawab,” paparnya.

Untuk memperlancar belajar model luring, kata Pardamean, sekolah-sekolah menyiapkan fotocopy modul-modul pembelajaran yang diantarkan ke pos-pos secara estapet. “Memang, tidak semua alamat dituju. Mungkin hanya dua atau tiga siswa saja didatangi, dan sudah diatur siapa yang mengambil ke pos A, siapa pula yang mengambil modul itu ke pos D,” jelasnya.

Pardamean mengakui pembelajaran model daring dan luring memiliki banyak kekurangan. Dari evaluasi Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi selama tiga pekan, tingkat keberhasilan kedua model itu hanya sekitar 30 persen. “Jauh dari yang diharapkan. Masih sangat lebih baik pola tatap muka,” sebutnya.

Pardamean juga membandingkan kesiapan anak didik belajar di rumah dengan diawasi orang tuanya. Konon pula selama ini orang tua tidak ada waktu mendidik anak-anaknya. “Bayangkan kalau dalam satu rumah tangga ada 3 anak yang harus diajari. Kalau handphone-nya besar bisa menampung tiga sumber mata pelajaran sekaligus, namun handphone layar kecil akan sulit bergantian. Memang, harus mengeluarkan biaya tambahan,” katanya.

Kesulitan juga ditemui dengan model luar jaringan melalui modul. Banyak orang tua siswa tidak memahami sistem modul. Apalagi jika orang tua yang pendidikannya SMP ke bawah, sementara modul paket SMP sekarang sudah lumayan tinggi sehingga mereka tidak bisa membimbing mengajari anaknya. “Yang paling kewalahan di tingkat PAUD termasuk TK. Kalau gurunya berkunjung ke rumah, harus tetap mengacu pada protokol kesehatan. Pakai masker, jarak jarak dengan orang tua siswa dan anak-anak. Jangan lupa sebelum masuk terlebih dahulu cuci tangan,” tukas Pardamean.

Sekolah-sekolah di Tebing Tinggi kini sudah mempersiapkan sarana dan prasarana tatap muka. Tersedia westapel dan menggunakan termometer gun. Para siswa dalam kelas juga dibatasi jumlahnya antara 13 hingga 18 orang. Hanya saja, proses belajar tatap muka itu belum dilaksanakan sampai adanya ijin dari pemerintah pusat, gubernur dan khususnya Walikota Tebing Tinggi.

“Pembelajaran tatap muka masih menunggu surat edaran dari Menteri Pendidikan, Gubernur Sumatera Utara dan Walikota Tebing Tinggi. Bagi sekolah yang sudah mempersiapkan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan, diharapkan bersabar sampai adanya ijin dari menteri, gubernur dan Walikota Tebing Tinggi,” tandasnya.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.