Tuntut Kompensasi Pandemi, Mahasiswa UIN Bandung Tolak Bayar UKT

0

Sejumlah Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat, menolak membayar uang kuliah tunggal (UKT) apabila pihak kampus tak dapat mengakomodasi tuntutan kompensasi selama pandemi virus corona (covid-19).

Perwakilan Aliansi Gunung Djati Menggugat, Putra, mengatakan tuntutan itu diinisiasi karena dampak pandemi covid-19 dari aspek ekonomi dirasakan oleh semua pihak, termasuk mahasiswa. Apalagi, kata dia, fasilitas yang diterima mahasiswa saat pembelajaran jarak jauh, dirasa tak sebanding dengan uang yang telah dibayarkan.

“Pandemi ini memang tidak bisa diprediksi dengan pasti kapan berakhir, tapi kampus harusnya menyiapkan mekanisme yang tidak membebani mahasiswanya,” kata Putra melansir Antara, Kamis (11/6/2020).

Gerakan mahasiswa UIN Bandung itu sempat menjadi topik tren di jejaring media sosial Twitter melalui tagar #GunungDjatiMenggugat, dengan lebih dari 15 ribu unggahan sejak pagi tadi. Menurut Putra, fenomena tersebut muncul karena para mahasiswa memang merasakan hal yang sama. Ia menyebut sekian banyak organisasi mahasiswa yang ada di UIN Bandung, setuju dengan tuntutan tersebut.

Melalui aliansi gerakan ini, Putra mengatakan pihaknya menuntut agar kampus memberikan kompensasi 50 sampai 70 persen dari biaya kuliah biasanya. Selain itu, pihaknya menuntut agar kampus memperbaiki sistem pembelajaran berbasis daring sebaik-baiknya sebagai bentuk pertanggungjawaban dan pembuktian perolehan Akreditasi Kampus (A) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

“Satu semester ini, kami selaku mahasiswa sama sekali tidak merasa menikmati fasilitas yang sudah kami bayar melalui (UKT) di awal semester genap lalu,” kata dia.

Ia tak menampik bahwa ada itikad baik dari kampus melalui pemberian kuota akses internet bagi para mahasiswanya sebagai modal menjalani kuliah secara daring. Kuota akses internet 500 megabyte per bulan itu, dinyatakan pihak kampus sebagai kompensasi.

Bagi Putra, bentuk kompensasi semacam itu kurang layak. Apalagi, pemberian kuota hanya berlangsung selama satu bulan. Sedangkan kuliah secara daring sudah berlangsung sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan.

“Jadi sangat jauh jika dibandingkan dengan nominal UKT yang kami bayarkan. Jika memang kampus tidak mampu menyiapkan fasilitas, kami meminta agar UKT kami dipotong untuk memenuhi kebutuhan penunjang selama belajar dari rumah,” ujarnya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.