Puisi-Puisi AGUS SARYADI

0

 

Semasa mahasiswa Agus Saryadi selain rajin kuliah, ia juga aktif di organisasi kemahasiswaan. Lelaki asal  Magelang, Jawa Tengah. ini diam-diam memiliki bakat di bidang desain grafis. Ia sering membuat spanduk, poster, bahkan menghias panggung pertunjukan. Agus pun berbakat menyanyi, dan pernah tampil pada hari-hari kekerabatan Ikatan Keluarga Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia (IKSI FSUI) khususnya angkatan 1979.

 

Embun

 

Kala mentari mencuat di cakrawala.

Mengurai awan mengukir pagi.

Embun yang dulu menepi malu

tak lagi kabarkan duka.

Resah risau rekahkan rusuh.

Mengapa kau hiraukan akar yang

berpesta pora di sudut sana?

Sedang dedaunan dihantam prahara.

Mendukung putik menghindar gugur.

Mestinya kau berselimut embun.

Menjaga pagi bersekutu dengan alam.

Karena ia tak enggan berbagi hidup.

 

Asdak 103, 13 Desember 1986

 

Memori Kintamani

 

Pintu dabelyusi itu kubuka

dan pupuslah sudah

kewajiban berhajat

Tapi apa mau dikata

sesal dahulu pendapatan

sesal kemudian tiada guna

Kotak putih udayana

berlalu begitu cepatnya

 

Seribu umpat terbuang percuma

ketika para ojeker dan colter menyerbu

Maka kuingat pesan Palguna si ‘punk rock’

“Di sini istana prokem terbangun megah”

Maka kusamper si raja jalanan

ia pun setali tiga uang

 

Oh….setan Trunyan, dosa apa yang kukandung?

Oh….Ebietgeade, mana janjimu?

Angin sejuk itu sudah berganti mata-mata beringas

Satu sorotnya sempat hinggap di kristal-kristal sana

Sembunyi dalam kapas buram

 

Kini hujan sialan yang kudapati

yang mengguyur tubuh sepanjang Kintamani

dan di gubuk bambu itu

aku termangu

bagai penjaja di hari-hari sepi

menjual diri pun tak terpenuhi

pada yang tidak maupun yang berbagasi

 

Oh surga, kataku

colt disel kuning

membawaku ke Tampaksiring

dengan sekujur tubuh merinding

dan sang malaikat yang duduk di posisi terdepan bak terbuka

Kuberi gopek !

 

Kampus Rawamangun, Maret 1984

 

Bekicot

 

Seekor bekicot bergegas

Merayap di atas titian ranting pohon yang

melintang  di atas arus kali

Dalam pikirannya ia  berharap kelak menemui sebuah kehidupan baru

Karena habitat yg lama

telah musnah digerus waktu

dan digempur oleh zaman yg tak kenal kompromi

Dijarah oleh mulut-mulut rakus

Sambil ngedumel sepanjang jalan

Sesekali berhenti di tengah derasnya air

Menarik napas dan megumpulkan tenaga

Bergerak lagi untuk menjemput nasib baik di seberang sana

Namun tubuhnya semakin miring dan nyaris jatuh

Tak ada jalan lain ia harus pandai menghindar dan bertahan

Karena tak hanya arus kencang yang dihadapinya

Juga hantaman sampah dan kerikil

Yang hanyut dan

menimpa tubuhnya

sehingga hampir

mustahil mempertahankan keseimbangan

Jika hanya mengandalkan tenaga lahiriahnya, tentu tak banyak membantu

Kesadarannya pun muncul

bahwa tenaga batinnya harus dimanfaatkan untuk memompa keberanian dan kepercayaan diri

Mampukah ia sampai di seberang dengan selamat?

Sementara tempat baru yang ia cari makin tidak jelas keberadaannya

Tapi keinginan harus diwujudkan

Tiba-tiba ia terjatuh

Tepat di ujung titian.

 

Cipinang Muara, Januari 2020

 

 

Padang Edelweis

 

Di padang edelweis itu

Mentari masih enggan

bercumbu dengan

Alun-alun suryakencana

Karena kabut

masih menyelimuti gede

Malam dingin mencekam

Angin merayap cepat

Lewati pintu tenda

Merasuki tubuhku

Hingga tulang sumsumku

Mulutku tak biasa nganga

Aku hanya memeluk lutut

Ya Tuhan, betapa besarnya Engkau.

 

Pondok Cabe 1989

 

Menyambut Fajar

 

Malam dingin merasuk ke dalam raga dan kalbu.
Selepas hujan deras menjelang sore tadi.
Masih tersisa mendung malam ini,
dan rembulanpun muncul
malu malu.
Malam semakin larut
Kelelawar berlarian kesana kemari.
Menyesali nasibnya tak kunjung usai.
Memaki makhluk istimewa.
Adalah manusia yang mengaku penguasa bumi.
Penguasa kepongahan penuh kemunafikan.
Padahal mereka hanya makhluk melata.
Hidupnya terbatas dua pertiga masa.
Dan menjelma laksana sampah.
Kotor dan berceceran dimana mana.
Yang berkonsekuensi melahap sampah pula.
Mana mungkin bisa seperti aku.
Mengintai semua gerak, mendengar setiap tarikan napas.
Setiap kibasan sayapku, setiap berak dan kentutku.
Bikin pusing tujuh keliling.
Seperti ternak kehausan di padang tandus.
Kegelapan semakin menggila.
Burung malam berkeliling secara acak.
Tak sedetikpun hendak hinggap di pepohonan.
Matanya tajam menerawangi setiap jengkal tanah.
Masih seperti kemarin.
Menyaksikan
makhluk melata
menghabiskan sepertiga jatahnya,
meski tak bisa dinikmati secara utuh.
Bahkan terasa hambar, nyaris tak ada durasi.
Sayup sayup terdengar suara muadzin,
lewat ketinggian loudspeaker.
Meski sempat menggema, kemudian lenyap.
Bersamaan dengan lelapnya para spekulator.
Surau sepi bak niaga nyaris nirtransaksi.
Masih tersisa sedikit harapan.
Berpacu dengan sang kala.
Mengulang ulang nyanyian meski lirih.
Semburat fajar menyibak angkasa.
Agak samar memang, namun terlihat jalan kecil.
Untuk
Menyambut para penyanyi pagi.
Dan para pemimpi yang terjaga.

 

Pondok Bambu, Maret 2020

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.