Puisi-Puisi Yahya Andi Saputra

0

 

Lahir di Kampung Gandaria, 5 Desember 1961. Magister Susastra (Kajian Tradisi Lisan) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Aktivis dan praktisi kesenian Betawi. Ketua Asosiasi Tradisi Lisan DKI Jakarta. Visiting Reseach Fellow, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), Kyoto, Jepang.

Menulis buku, antara lain: Gelembung Imaji (kumpulan puisi, 1999), Beksi: Maen Pukulan.Khas Betawi (2002), Ragam Budaya Betawi (2002), Upacara Daur Hidup Adat Betawi (2008), Pantun Betawi, Refleksi Dinamika, Sosial-Budaya, dan Sejarah Jawa Barat Dalam Pantun Melayu Betawi (2008), Profil Seni Budaya Betawi (2009), Permainan Tradisional Anak Betawi (2011), Cetrok Bekasi (editor, 2013), Antologi Puisi Ketika Daun Jatuh (2013), Antologi Puisi Petang Puisi Ekspresi & Refleksi Alumni FIB UI (2014), Sejarah Perkampungan Budaya Betawi : Demi Anak Cucu (2014), Antologi Puisi Syair Persahabatan Dua Negara, 100 Penyair Indonesia – Malaysia (2015), Antologi Puisi Gerhana (2016), Kumpulan Puisi Sihir Sindir (2016), Antologi Puisi Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Antologi Puisi Negeri Awan (2017), Antologi Puisi Dari Loksado Untuk Indonesia (2017), Antologi Puisi The First Drop of Rain (2017), Jantuk Pertumbuhan dan Perkembangan (2017), Kumpulan Puisi Jampe Sayur Asem (2017), Antologi Puisi Negeri Bahari (2018), Antologi Puisi Sendja Djiwa Pak Budi (2018), Antologi Puisi Epitaf Kota Hujan (2018), Antologi Puisi Marhaban ya Ramadhan (2018), Antologi Puisi Doa Seribu Bulan (2018),Antologi Puisi A Skyful of Rain (Banjarbaru, 2018).

 

CERITA TIGA CINTA

: air mata sang saka

 

Pertama

Cinta menyeretmu memasuki gerbang persaudaraan berlumur air mata. Kelabakan mencari tonggak pijak. Berkutat dalam ruang fana kemanusiaan. Jika sejak semula semulus jalan bebas hambatan, kamu tiada pernah merasai sensasi ngeri tepi jurang, berpusing menanjak menurun penuh lubang atau jebakan paku manusia garang. Zaman memilih cinta dan rumahnya sendiri.

Semula kamu pusing sebab begitu banyak sekat dan pagar saling menggulung menyiapkan kerangkeng pasung. Pagar kian kekar hanya mengkhidmati yang dipertuan saja. Cinta membuka menutup panorama indah semesta, fanatisme membelenggunya pada ruang kelam tanpa pintu keluar. Cinta diumbar di segala zaman.

Kamu memasuki gerbang persaudaraan dan kemanusiaan membentang kembang semerbak dan jajaran rumah asri tenang terang. Cinta dirawat disusuinya. Siluman, setan, jin, dan makhluk sejenisnya tiada kuasa menjadi dirinya. Cinta mengakar menjelajah, nafas di ruang yang sama.

 

Kedua

Cinta berubah rupa. Kamu penuh benci dengki kepada bukan kamu. Kamu anggap selain kamu pembenci dan pendengki seurat sehati. Hingga kapan kamu menyadari buruk sangkamu? Jelas setan diciptakan dari api tiada sudi menjadi saudara saudari apalagi abdi.

Jika tiada tahu siapa kamu, kumaklumi saja kelainan isi nuranimu. Tapi hampir sepanjang usia kutahu sepak terjangmu, maka hupahami tiada lain kamulah sumber benci dengki itu. Sampai titik ini kamu sangat tidak mutu bahkan amatlah tidak tahu malu.

Kamu memiliki panca indra sempurna terutama hati, mata, dan telinga tetapi mubazir belaka. Kamu berperangai layaknya hewan, bahkan lebih buruk. Penawar apa yang dapat menyembuhkan? Mantra apa pencegah kusut pikiran?

 

Ketiga

Cinta merawat rasa. Desember membeber riwayat melewati Januari penuh gairah, Februari menggambar cerah, Maret membelah jelajah, April menumpah ide melimpah, Mei berkeringat gerah, Juni menatah gemahripah, Juli menjadi gundah, Agustus meletus berkah meriah, September sumber keluh-kesah, Oktober luber meruah, November bergelimang basah mengenang kenang bersimbah-simbah. Begitulah Desember mengepul ingatan mencatat dirinya pada hitungan putus-sambung hingga tepat pada ruang kosong angka nol.

Engkau membuka dan menulis kembali lembar Januari untuk sampai kepada dirimu di ujung nanti. Aku akhirnya memahami apa yang Kau katakan, “Waltandhurnafsunmaqaddamatlighad”, menoleh ke belakang agar tidak sesat di depan. Aku tahu jalan Desember berakhir untuk mempersilakan Januari. “Apakah Januari kakak atau adikku, dekat alangkah jauh”, guman Desember sibuk melesapkan angka-angka ke pori-porinya. Berhamburanlah wajah dari pori-pori itu yang sepanjang waktu beriringan selalu.

Desember di angka tua, pada daur hidupnya melekat cengkeram asam-garam, pahit-manis, airmata-tawa, sebagai tanda sifat makhluk sebagaimana dirasakan berputar memutar sepanjang lingkar perjalanan. Jalan raya menjadi sungai, sungai menjadi jalan raya. Jembatan tanpa sungai, sungai tanpa jembatan. Rawa menjadi kota, hutan kehilangan pijakan, gunung limbung mencari tempat berlindung, laut mengkerut didominasi reklamasi.

Desember tekor dalam negosiasi, keteter mencatat riwayat saudaranya, teler menghirup janji, kelenger dalam muslihat olah pikir orang pintar bernafsu besar. Terhuyung bingung dalam remang tempat bergantung. “Aku sarat cinta tersesat cinta, sekarat berlipat-lipat cinta”.

Jika kamu berhati nurani maka persaudaraan dan kemanusiaan menjadi benih nyata, menjelma pohon rindang dengan akar menghunjam, dahan dan ranting menembus langit. Kembali kepadamu kebaikanmu, begitu pun sebaliknya. Sejuk dalam wewangian Sidratul Muntaha. In ahsantumahsantumlianfusikumwainasa’tumfalaha.

 

Jakarta, 2 Januari 2019

 

 

HIKAYAT PAK JUJUR

 

Arkian kata hikayat, keriaan paling meriah yang diongkosinpake duit rakyat berjumlah nauzubillah, berakhir dengan mabuk muntah uger.Calo dan tukang parkir arahin jalan pemabuk yang lagi nyari rumah. Mereka belingsatan ambak-ambakan segala arah, lantas disediakan jalan penuh kepalsuan. Mereka masuk menembus jalan kebohongan. Cuman Pak Jujur yang waras dan tidak mabuk kelimpungan mencari kawan sepaham namun tak satu jua ditemuinya.

Pak Jujur pengabisannya jadi cerita absurd atau khayali belaka. Cucu, cicit, piut enggak kenal lagi Pak Jujur karena babe, emak, encang, encing, abang, adek, ponakan, dan misanannya mengusir dan ngedepak Pak Jujur dari rumah serta lingkungannya.

Pas orang-orang ngerasajogrogan Pak Jujur urgent bukan kepalang, dicarilah ia mungseng saban pojokan kampung tapi enggak ketemu, lantaran Pak Jujur ilangatawanguap enggak ketauan tempatnya atawa raib ditelen bumi. Babe, emak, encang, encing, abang, adek, ponakan, dan misanannyanangisjejemplingan, sembari gegeroanmanggil-manggil “Pak Jujur… Pak Jujur… Pak Jujur… balik dong balik… balik sini…” tapi panggilan ude enggak munasaba enggak ada artinya. Pak jujur enggak ketauan batang idungnya. Bekasnya cuman jadi bahan ceritaan.

Kata hikayat, konon orang-orang sering ngimpiin ketemu Pak Jujur yang dalam ngimpi itu Pak Jujur ngomong dengan danta, “Menang tapi curang, nikmaaattt… orang mah bae-baeaja, yang enggak bae bohongnya. Kenyataan disulap ama kebohongan.”

 

Jakarta, 18 April

 

 

CILIWUNG

 

Jika kamu air yang gelisah merasa tersia-siakan, mencari tempat menumpahkan gejolak putus asa, maka aku Ciluwung tempat kamu melarung gelisah keluh kesah sampai hanyut seluruh amarah.

Manakala kamu rindu kepada siapa yang paling kamu rindu, maka aku Ciliwung siap sepanjang waktu memapah mengantar agar tuntas rasamu itu. Aku Ciliwung, menanggung apa yang seharusnya kamu tanggung, sebab aku mencatat riwayatmu.

 

Jakarta, 24 April 2019

 

 

GURU YANG LUKA

 

Guru menggelar peradaban

Kebaikan dipahatkan

Kejujuran ditanamkan

Adab kesopanan disuapkan

Kemuliaan didengungkan

Hati disejukkan

Pikiran diluruskan

Rel dan pagar dikuatkan

Senantiasa ada jiwa

Mencumbu fatamorgana

Gelap mata dan durjana

Dunia membakarnya

Legam semburat hatinya

Bahkan guru dianiayanya

Sejak lama Aristoteles berkata

Mendidik pikiran tanpa mendidik hati

Tidak mendidik sama sekali

(Kukenang Ki Hajar Dewantara

Dan pendidik semuanya

Allah membuatkanmu rumah mulia)

 

Jakarta, 2 Mei 2019

 

 

 

AYAT-AYAT BOHONG

 

#1

Telah kamu sempurnakan ayat-ayat bohong dan tipu

Kamu jadikan landas pijak meraih arah yang dituju

Kamu pahat pada batu dan tancapkan jadi tugu

Kamu wariskan kepada anak cucu generasi baru

Maka akal sehat cerdik pandai kelu mati kutu

Kearifan agamawan berkelindan bagaikan hantu

Rakyat diam membeku atau membiak jadi benalu

Suara jernih dijaring digiring berputar di jalan buntu

 

#2

Bertebaranlah orang waras kehilangan batas

Orang jujur tersungkur pada keyakinan yang amblas

Keadilan kesetiaan sopan santun buram tak jelas

Keyakinan dan keberanian tergulung terhempas

Nurani dan rasa hormat terjungkal tinggal ampas

Ekosistem bergerak liar dengan sorot mata ganas

Nasionalisme diracuni fulus dan bergerak culas

 

#3

Kamu jadikan bohong dan tipu sebagai ritus ibadah

Memuliakan jagal, begundal, begal di rumah indah

Kamu asyik makan bangkai dan minum nanah

Untungnya aku paham makna diriku yang rendah

Firman dan sunnah menjadi pandu istikamah

(faalhamahafujurahawataqwaha)

 

Jakarta,  Mei 2019

 

 

API BENCI

 

Pikiranku tergugu terkunci tertuju kepadamu

Tatkala si jago merah bergolak menyembur

Sekejap saja lidah tajamnya menjilat

Sekujur tubuh rubuh terseret kelebatmu

Hilang kamu membubung dikawal lelatu

Riwayat kamu catat dalam buku yang terbakar

Biar kamu saja yang menjadi pemenang

Karena kamu gulungan berlapis-lapis api

Tubuhmu diperkenankan membakar

Asap bergumpal-gumpalan menjadi teror

Bagai anak panah menerobos uluhati

Gelisah dan napas terengah-engah

 

Jika esok ada hikayat api garang

Menang dalam laga di arena perang

Itu karena sesungguhnya dirimu api

Yang gagal menerka arah amarah

Dalam balutan utuh hawa napsu

Kampung kamu bakar orang menggelepar

Selebihnya kekacauan saling terka

Api benci tiada henti berkobar

Kamu menyiapkan kayu bakar

 

Jakarta, 4 Mei 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

ZIARAH

 

Ziarahku sesungguhnya munajat mengenang

Maafkan aku tidak menabur kembang

Aku yakin engkau berada di taman lapang

Harum indah asri sepanjang pandang

Ya, raudlah min riyadil jannah lega terbentang

Engkau di sana riang bersenang-senang

 

Jakarta, 5 Mei 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

MENGENANG KENANG

 

Kau genggam tanganku di pinggir danau berisi buaya

Matahari alangkah ramah indah menghidupkan bunga

“Ih, buaya” ucapmu mengeratkan genggaman bahagia

Kini kita kembali ke Ragunan di tempat yang sama

Kamu menggendong cucu girang tertawa-tawa

“Ih, masih ada” ucapmu di pinggir danau berisi buaya

 

Jakarta, 10 Mei 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

IBU

 

Jika cintamu diukur waktu

Biarkan kamu habiskan batas itu

Yang dicatat pada lembar rahim ibu

Jika ibu melahirkan kamu

Tak bisakah kamu menjadi ibu

Yang memelihara cinta ibu

 

Jakarta,  Mei 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

TOPENG

 

Apakah liuk lengkung gerakmu sebatas hentak ritmis musik

Atawa mengisi ruang jelajah yang ditandai garis dan titik?

Ronggeng mengibaskan kembang topeng dan ampreng

Melesapkan Samba, Jingga, Panji gemulai dan garang

Sebaiknya kamu pahami itulah liuk lengkung tubuhmu

Disesaki ragam kedok kehidupan sepanjang waktu

Kamu asyik berkedok menutup rahasia-rahasia

 

Jakarta, 28 April 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

PERISTIWA APRIL

 

Kamu lupa tanggal istimewa

Tatkala banyak orang menjadi saksi

Tanggal itu datang lagi berkali-kali

Kamu selalu lupa seperti biasa

Jika begitu apa istimewanya?

April lesap membawa kisahnya

Mei menyeruak menebar gelisahnya

 

Jakarta, 23 April 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

BUKAN PUASA

 

Aku dapat menghalau godaan dari berbagai arah

Apatah mengunci mulut, mata, dan telinga

Atau sekadar menahan haus dan lapar

Tapi aku tak kuasa menaklukkan jari-jemari

Untuk berjauh-jauh pada layar telepon genggam

Sungguh puasaku bukan puasa yang seharusnya

Menguaplah kasih sayang dan ampunan

Nar murub membesar mendekat-dekat

Tuhan, hanya kuyakini rahasiaMu

(Asshaumu li, wa Ana ajzi bihi)

 

Jakarta, 10 Mei 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

BATAS ANGKA

 

Jika pergantian angka kau anggap batasnya

Kapan kamu sadar pada kepastian batas

Selalu ada yang datang juga yang pergi

Perputaran siang malam bulan matahari

Di antara lingkar putar itu ada yang berhenti

Kamu satu titik menjadi abu dan tiada

Ini bukan tentang rentang angka 1441

Tapi ikhtiar menanam bebauan surgawi

Sebermula kamu ditiupkan menjadi abdi

 

Jakarta, 31 Agustus 2019

 

 

BUKAN ANGKA

Kau tumbuh bukan sebagaimana angka

Kadangkala tiada dalam pembagian dirinya

Atau tekor menghadapi kemungkinan tak terhingga

 

Dan kini kau berada persis pada angka yang manis

Tiang pancang sekuat apa mencencang matahari

Rancang bangun rumah tahan segala cuaca

 

Kau bukan angka meski selalu melewati angka

Tercengang pada simpang bercabang-cabang

Tatawarnaatawa suara bertanda tanya

 

Kau benih murni berbalut ruh ilahiyyati

Akan menjadi sebagaimana pondasi

Yang kau susun rapi bersama hati

 

Jakarta, 31 Juli 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

MEMBACA

 

Jika kamu membaca kamu merasakan apa

Aku melayang bebas laksana ulung-ulung

Mengawang mengarung semesta

Sekilas saat menggigil di Antartika

Berpeluh basah di Gurun Sahara

Pusing tujuh keliling pada koruptor

Terlelap pada gemerlap Ratu Seba

Berderai air mata pada Opera Aida

Pilu perih bersama bocah Palestina

Bersimpuh pasrah di karpet Raudlah

Melebur asmara pada pusaran Kabah

Sensasi asyik di Anfield bersama Salah

Aku bisa ada di mana saja kusuka

Membelah laut bersama Musa

Ngintip putri jelita mandi di kolam istana

Lihatlah aku bermuka-muka dengan Musashi

Hitler, Ratu Wilhelmina, Nyai Dasima

Plato, Ki Semar Badranaya, Gundala

Jenghis Khan, JP Coen, Aki Tirem,

Abraham Lincoln, Gajahmada, Putri Diana

Kini aku merasakan degup jantungmu

Cinta menguatkan rumah kita

Buku menjilidnya mengabadikannya

 

Jakarta  14 Agustus 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

HUJAN JANUARI

 

Hujan itu

Ngilu dan syahdu

Langit melepaskan rindu

Bumi mendekap restu

“Hujan itu aku” ucapmu

Ya, aku bumi ada untukmu

 

10 desember 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

NEGERI MIRING

 

Di negeri miring

Koki menyaji hidangan miliaran piring

Untuk penguasa dan kroninya yang sinting

 

Di negeri miring

Presiden layaknya kambing

Kadal mengatur menggiring

Macan rela mencopot taring

 

Di negeri miring

Buaya belo sipit bebas nangkring

Ular kepala dua bawa gunting

Rakyat pusing tujuh keliling

 

Di negeri miring

Penguasa menjadi tukang tuding

Ibarat maling teriak maling

Salah ucap jadi tidak penting

 

Di negeri miring

Pejabat bebas berak dan kencing

Di semua tempat basah dan kering

Rakyat ditindih terkaing-kaing

 

Di negeri miring

Koruptor bukan lagi kelingking

Menjadi telunjuk lihai menuding

Penguasa dan petinggi tekun membeking

 

Di negeri miring

Pengibar berdera dicap sinting

Diadili dicap manusia miring

Masuk bui sampai kurus kering

 

Di negeri miring

Orang waras jatuh terpelanting

Kotuptor girang ngakak tersungging

 

Jakarta. 19 Des. 2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

TAK ADA IBU

 

Karena alam semesta adalah ibu

Maka aku kamu beribu-ribu

Memenuhi semesta penjuru

Jika tak ada gelinjang tubuh ibu

Tak ada miliaran aku kamu

 

Jakarta. 22.12.2019

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

BANJIR DENGKI

 

Ya, dirimu benar-benar banjir

Banjir dengki dan segala banjir

Banjir dengan dera kemiskinan

Miskin akal sehat dan kewarasan

Maka tiada guna musim hujan

Sebab sepanjang waktu

Sirik dengki adalah banjirmu

Menggenangi busuk nuranimu

 

Jakarta, 5.1.2020

 

 

Puisi Yahya Andi Saputra

KONSPIRASI SEGALA MAKHLUK

 

Jika penguasa, koruptor, dan perampok bersatu

Kejahatan hanya menggerutu dan mati kutu

Jika umara, ulama, dan setan bahu-membahu

Keadilan gentayangan menjadi hantu

Jika cerdik pandai dan orang bijak hilang malu

Kebaikan betah beku dalam tumpukan buku

Jika rakyat berperilaku bunglon dan benalu

Selamat tinggal pendusta dan penipu

Jika negara dikelola dengan gelora nafsu

Selamat datang garong yang bersekutu

 

Jakarta, 13.1.2020

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.