Puisi-Puisi  NAZMIYAH SAYUTI

0

Nazmiyah Sayuti lahir di Jakarta, berkegiatan sebagai social entrepreneur di bidang tata kelola ekonomi. Wanita yang akrab dipanggil Nana ini sedang mengembangkan pengelolaan sumber daya bersama (common poll resources). Semasa kuliah pernah menjadi ketua kelompok menulis paper Prof Saleh Saad. Paper diserahkan ternyata analisanya keliru karena salah paham dan terpaksa ditulis ulang semua.

 

Dialog benda langit

 

(Bumi berkeluh kesah):

Aku tak mau

Ditanami buah si malakama

Sedangkan dari perutku

Tumbuh bebuahan ragam yang pantas rasanya

Aku tak rela

Disimbahi peluh dan airmatanya

Sedangkan penghuniku ceria adanya

 

Hey, rupanya engkau terlupa

Dulu penghunimu membelah diri dan melata

Nanti membuana diangkasa dan bersenyawa

Dialah salah satu anak dari perutmu

Jangan kau siakan anak yang merindukanmu

 

(Matahari juga mengeluh):

Akupun tak suka

Melihat bayang-bayangnya

Yang selalu berkemauan sendiri

Tak peduli disudut mana aku menyinari

Aku tak suka

Dibisingi suara lantangnya!

 

(Sang waktu juga mengeluh):

Aku juga  kecewa

Dia tidak hidup di masa kini

Dialah sisa masa dini

Ketika reproduksi demikian sederhana

Dialah gaung masa nanti

Kala evolusi melanjutkan ceritanya.

 

Bukankah itu suatu tanda dariku

Bahwa raga itu nisbi adanya?

Bukankah itu bagian dari ilmuku

Bahwa engkau waktu adalah niscaya?

 

Kalau tiba saatnya

Harap dapat kuujarkan padanya

Salam kepadamu wahai jiwa yang tenang

Kepadaku segala suatu akan berpulang

 

Tahukah kamu suatu keyakinan?

Airmatanya menjadi sungai  yang membasahi kekeringan

Keringatnya menjadi air terjun yang mengikis bebatuan

Suaranya jadi gaung yang menembus keriuhan

Kekuatan dan kerapuhannya

Kebaikan dan kekurangannya

Akan!

 

Pesan dari masa silam

 

Aku bergegas melangkah kedepan

Hidup adalah kemajuan dan perubahan

Sesekali menengok ke belakang

Jejaknya sisakan kenangan dan keterikatan

 

Kulihat sosokmu remang-remang

Di antara keriuhan zaman

Delapan ratus tahun waktu

Di antara kita terbentang

Aku bertanya kepadamu:

Kenapa engkau berhenti disitu?

 

Karena disinilah tempatku.

 

Persetan denganmu!, kataku

Engkau keliru menafikan waktu

Zaman akan sia-sia menelanmu

 

Sekonyong-konyong kau muncul di hadapanku

Aku keheranan: Kok bisa begitu?

 

Karena aku menghentikan waktu, katamu

Bagaimana engkau bisa menghentikan waktu?

Tidak kubuka mataku,

tanpa melebarkan dadaku.

 

 

Selamat tinggal aku

 

Selamat tinggal aku

Tampak kelihatan dari sini

Aku tertinggal disana di ruang ada dan tiada

Menjalani realitas yang ini

Dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi

 

Selamat tinggal aku

Ini bukan kisah bahagia

Bukan pula cerita duka

Inilah apa adanya

 

Tampak kelihatan dari sini

Waktu seperti berhenti

Masa lalu adalah masa kini

Masa kini tak beda dengan masa nanti

Sedangkan ruang hanya  persepsi

Bintang yang telah mati memang kelihatan mati

Aku disana dan aku juga disini

 

Karena aku telah berdamai

Dengan yang  ditemukan

Ternyata ironi telah mati

Ketika aku berpasrah diri

Kepada yang dinanti

 

Selamat tinggal aku

Ini bukan kidung surga

Bukan pula sangkakala neraka

Inilah apa adanya

 

Tampak kelihatan dari sini

Aku mengharap tanpa menuntut

Aku menggapai tanpa menyentuh

Aku memberi tanpa meminta

Aku hadir tanpa kelihatan

 

Selamat tinggal aku

Tampak kelihatan dari sini

Aku memilih berada dalam realitas yang ini

Karena aku

 

 

Apabila aku, maka ijinkan aku

 

Apabila aku tak bisa melihat senyummu

Maka ijinkan aku

Menyantuni tanaman hiasku

Ketika kuntum berkembang

kelopaknya merekah seolah merayu

 

Kalau aku tak dapat menikmati candamu

Maka ijinkan aku menyusuri pelosok bumi

Agar bisa bersilaturrahmi dengan penghuni

Biarkan aku menyapa langit

supaya berkomunikasi dengan Yang Memberi

 

Bukankah kita beralas bumi,

beratap langit,

bermandikan cahaya matahari?

 

Bukankah neraca berimbang

pertanyaan terjawab

dan jalan berujung?

 

Apabila aku tak dapat berada diduniamu

Maka ijinkan aku membawa pesanmu

dan cerita dari sahabat-sahabatmu

kepada dunia ragam yang tidak ramah

 

Kalau kita tak dapat saling berbagi

Maka ijinkan aku belajar lagi

Tentang bagaimana menanam padi

Mengusir hama, mengira cuaca,

Lalu menuai hasil menggunakan ani

 

Bukankah legenda itu ditawan kutukan

mengarungi lautan mencari cinta

Lalu ternyata dibebaskan

sesudah dia memberi cinta?

 

Kalau aku tak mampu mengiring langkahmu

Maka ijinkan aku berhenti bertengkar

Dengan bayang-bayangku

Yang selalu berkehendak sendiri

Tak peduli dimana berada matahari

 

Kalau aku tak pantas memilikimu

Maka ijinkan aku berhenti jadi tawananmu

Agar aku dapat bersahabat dengan aku

Supaya kaki ini seirama mengiring detak jantung

Seraya melangkah kedepan tidak tersandung

 

Bukankah cakrawala tampak

menyatu dengan laut

Tapi setiap kali dihampiri

dia selalu menjauhi?

 

Bukankah mata air menawar dahaga

Di tengah teriknya padang sahara

Tapi itu cuma fatamorgana?

 

Bukankah bintang itu tampak bercahaya

Tapi sesungguhnya sudah lama fana?

 

Apabila aku tak dapat bersamamu

Maka biarkan jiwaku menghuni realitas yang ini

Dimana garis takdir yang berbeda ternyata ada

dan kemungkinan yang lain telah dan akan terjadi

 

Bukankah realitas

adalah jumlah kemungkinan

tanpa batas?

 

 

Ajarkan Aku

 

Aku pernah menyusuri gua di perut bumi

dengan liku-liku bercabang dan menyempit

dalam gelap dan pengap yang menyergap

 

Aku pernah tersesat di negeri orang

dengan tulisan dan bahasa yang aku awam

 

Aku pernah diberi oleh seorang yang kukasihi

setangkai bunga yang dipetik dari jalanan

 

Tapi aku belum pernah tersesat

di jalan yang belum pernah dilalui

Tergambar di atas peta yang tak terbaca

Membuatku bertengkar dengan bayang-bayangku yang menuntunku kesini

 

Aku belum pernah disengat arus daya

Yang membuat air mata mengalir entah kenapa

Dan mendorong tangan ini menjalin baris kata

yang tak pernah tertulis sebelumnya

 

Karena itu,

Ajarkan aku bagaimana bertukar pandang

dan berbalas senyum denganmu

 

Ajarkan aku bertutur dalam bahasamu,

berjalan dengan gayamu,

tertawa karena guraumu

 

Ajaklah aku ke ruang dimana

kamu dan sahabat-sahabatmu bertandang

 

Berbagilah denganku

Tentang dunia yang tidak ramah

Tentang kisah kasih yang terlarang

Tentang usaha dan cita yang terhalang

 

Ceritakan semua

Tentang mimpi-mimpi burukmu

Sebab aku pernah menangis dalam mimpi-mimpiku

karena tak bisa menangis ketika terjaga

 

Ajarkan mulut ini untuk berhenti membisu

tangan ini agar memberi

dan hati  supaya  mengerti

 

Bicaralah padaku, ajarkan aku

Datanglah padaku, tuntunlah aku

Karena aku  diatas lututku

 

 

Jari-Jari Kecil

 

Jari-jari kecil ini

Begitu mungil kala kau lahir

Tapi begitu sigap menarik rambut dan hidungku

 

Jari-jari kecil yang berlumuran coklat

Meninggalkan bekasnya

Di sofa, di dinding, di semua penjuru rumah

Dan dalam kenanganku

 

Kadang kuterawang

Jari-jari kecil

Apa yang akan kau lakukan

Dimasa mendatang?

 

 

The First Cry

 

First sound has been uttered

Like the First Cry

A new life has started

Replacing the old one

 

First expression was delivered

Like the First Smile

A new hope was born

Reinventing the old one

 

First word has been spelled

Like the First Prayer

A miracle happens once again

It is original as it is real

It is you!

 

 

Pada belahan jiwa

 

Kuolah masakan sedap penggugah rasa

Agar jiwaku utuh semestinya

 

Pada junjungan hati

Kuajak olah raga bermeditasi

Semoga menguatkan diri

 

Pada dia yang terkasih

Kurancang rencana nanti

Supaya kaki melangkah pasti

 

Aku dia ada apa

Bukanlah terbelah dua

Melainkan tersambung jiwa

Dalam kuantum semesta

 

 

Surat Dalam Botol

 

Seperti surat dalam botol

Yang dihanyut ombak di lautan

Dari sebuah pulau kesendirian

Disertai seiris tipis harapan

Surat ini akan terbaca olehmu

 

Seperti tulisan di alam maya

Di antara lalu lintas ada dan tiada

Berkelana seolah tanpa tujuan

Mengharap seseorang menemukannya

Lalu menyampaikannya kepadamu

 

Apa kabar, sahabat?

 

 

Surat dalam botol itu

 

Sudahkah kau terima dan kau baca,

surat dalam botol itu

Yang telah bertahun-tahun

mengarungi alam maya?

 

Bukankah surat itu bercerita

tentang kisah tanpa penokohan

Dituturkan dengan kata-kata

yang tersedak di tenggorokan

Tentang rasa yang menggelora

dalam dinding-dinding kebisuan?

 

Kau pasti tergaga-gugu,

seusai membaca surat dalam botol itu

Karena merasa akrab dengan kisah itu,

tapi tak pernah sungguh-sungguh melakoninya

arena kita pernah begitu dekat,

namun tak pernah saling menyapa

 

Sekarang kau sepenuhnya tahu

Surat dalam botol itu,

bercerita tentang kisah yang mengalir tanpa alur

Namun berawal dan berakhir dalam keikhlasan

Yang abadi dalam takdir kekinian

 

Selamat datang, sahabat!

 

Surat dalam botol itu, lagi

 

Surat dalam botol itu,

bertahun-tahun kini terapung di lautan

Disela ombak, diterpa badai,

disengat matahari, diabaikan para nelayan

 

Kini terdampar di pulau kesendirian

Terhempas di karang bebatuan

Pecah keping berserakan

Surat selembar dibawa ombak ke pantai,

terbuka hampar di atas pasir

Huruf demi huruf diurai angin semilir

Kata demi kata diujar buih air

Bait demi bait dinyanyikan para unggas

 

Sedikit demi sedikit tulisannya luntur memudar

Kertasnya basah mengering lalu merapuh

Surat selembar hancur menyerpih

Kini hadir tanpa wujud,

karena kidungnya membahana ke seluruh nusa

Dihafal ulang oleh setiap penghuninya

 

Kalau di suatu masa kau tergugah rasa

Dengarkan pada jeda keabadian,

di antara jarak pepohonan

di tengah henti kicaunya burung

Surat dalam botol hadir menunggumu

dalam ketiadaan

 

Selamat tinggal, sahabat!

 

Dari sudut ini

 

Niscaya apa terjadi

Kalau kulihat dari sudut ini

Kematian,

itulah perubahan kesadaran!

Bukankah ketika mati,

kau bangun?

Bukankah kematian,

Itu putaran kehidupan?

 

Ragaku bertahan,

tak mau bergeming

Tapi jejaring otak menghubungkan

Pada kesadaran yg ingin perubahan

Bebaskan aku dari raga!

Perintahnya pada sinapsis

 

Maka badanku terkulai lalu terurai

Memenuhi alam kuantum yang maha halus

Dunia yg berkisah tanpa kata

Dimensi yang digelar tanpa tepi

Teriring doa dan salawat

Semoga berkat dan selamat!

 

 

Hati Berpintu Seribu

 

Gedung Lawang Sewu

tegar dan angkuh dengan seribu pintu

Mengundangku masuk melalui pintu

yang terbuka satu demi satu

 

Hatimu seperti Gedung Lawang Sewu

Ketika kumasuki hatimu

kulihat tamu-tamu lain juga disitu

 

Kulalui lapis demi lapis pintu

Makin sedikit kehadiran orang lain

Hingga akhirnya dihadapanku pintu terakhir

Ada apa disitu? Tolong bukakan pintu!

 

Pintu terakhir tak bergeming

Malah suara didalam menyuruhku pergi

Mengapa, kataku – aku ingin mengenalmu!

Mengapa engkau ingin masuk, kata suara dari dalam

Kalau pintu hatimu sendiri tertutup?

 

Tak jadi mengetuk tanganku berhenti di udara

Kata-kataku tersedak di tenggorokan.

 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.