Puisi-Puisi MERCY INDIANA

0

 

Teman-teman seangkatan di kampus ada yang memanggilnya Indi, ada pula yang menyapanya Mercyndi. Pelukis yang karyanya menjadi gambar cover kumpulan puisi ini pernah bekerja di majalah dan lama berkecimpung di advertising agency sebagai penulis naskah iklan. Setelah pensiun Mercy Indiana lebih banyak menekuni hobi melukis, selain produktif menulis puisi.

 

Ingatan

asa terbang sudah.
berkelana kemana ntah…
sisa jejak yang masih tertinggal
menyisakan wangi pagoda
dalam sayup ingatan hidup
menyiratkan tali karma:
pertemuan yang tidak sempurna.

 

 

Mencari Jejak

 

jalan panjang yang berbelok
diantara tandus tanah kering
dan keriuhan yang memanja mata
tak ada selarik ingatan juga degup lama
tapi ketika kaki sampai ditempatnya
semua terpaku lagi
terpana dalam tanya
pergi ke roda kehidupan silam
mencari sisa yang pernah tergenggam
yang mungkin telah hilang
terkubur episode lain kehidupan.

 

 

Lepas

 

sebuah pertemuan yang nyaris
hati yang bertaut
sayat langit yang putus
mengalir sungai airmata
saat dia berbalik :
tak ada janji yang diingat
setelahnya hanya bisa diraba
initah yang pernah dijumpa
di bawah wangi pagoda.

 

 

Pertemuan

 

di balik tatap yang tajam
kernyit penuh tanya
bak magnit
mengikuti langkah
membuka pintu
menghanyut lewat perahu
rindu yang menggelayut
memberat di ujung hari
meninggalkan percikan cerita
dari kata yang tak pernah terucap.

 

 

Misteri Rasa

 

pada siapa yang pernah bertemu
dalam pinggan wangi pagi
bentuk yang terhirup dari gelas sunyi
di rahasia meja yang tak terungkap
di menu tertulis garis hidup
kau datang diantara sayup angin
menelusup ke relung jauh
meninggalkan semerbak yang tak kunjung usai
di denting genta ayutthaya.

 

 

Chaopraya

 

denyut yang diam
gelombang tak bersuara
tak ada atraksi karma
kesemuan yang meraja
direlatif teka-teki semesta
o,  hampa.

digemuruh  arus deras menyentak
papan perahu berderak derak…
menyusuri panjang sungai chao praya
tak ada suara.
tak juga kulihat wajahnya di langit terang
nyata mungkin hanya sebuah paragraf
pengisi lembar jalan kehidupan
sinkronisasi atau puzzle
yang terbalut misteri di kungkung
negeri ayutthaya.

 

 

Doa

 

di depan  sang buddha
dupa dan bunga
juga nyanyian dan gemerincing
kaki penari
berhembus banyak pinta
melayang tinggi
ke langit
kosong…
hilang…wajahnya
justru di tanah
tempat kakinya berpijak.

 

 

Wat Indrawihan

 

lima kepak sayap kecil
terbang menuju awan
riang menggapai bintang
di depan sang Buddha
pesan yang sayup
mereka tinggalkan
lirih tenggelam
terbawa angin siang
di wat indrawihan.

 

 

 

 

Napak Tilas

 

sebaris cerita
keberanian sekaligus harapan
tertulis lembut
di lembar catatan
baan sabai khao san
tinta hidup yang silam
tertinggal di belakang
wat chana songkram!

sudah jauh melangkah
dalam rintik hujan berselimut mendung
pematang sawah
Duon Muang yang senyap
sendiri dalam ketidaktauan
tiba tiba sudah sampai
di depan Wat Yai Chai Mongkhon
bersimpuh di reclining buddha
serasa meniti dalam cerita silam
meraba….warna
juga nuansa
kenangan yang musnah
mencoba dirasa
namun tak mungkin
ditemukan lagi.

 

 

 

————————————————-

 

 

 

 

 

 

Silam

 

kucari kenangan di bawah tangga
Wat Mongkhon Bophit
senyap dan berdebu…
hilang rasa
hilang rupa
kupungut satu satunya ingatan
di bawah pohon boddhi
yang menghilang
bersama waktu yang pergi.

 

 

 

 

 

Sendiri

 

di ujung malam
di bawah langit yang gelisah
berhembus di antara kisi jendela
energi yang tidak dikenal
meradang rupa
menerka nerka
mungkin abu yang terbawa
dari sungai chao praya

bila harumnya sampai
di kelopak kamboja
di cangkir teh pagi
kala embun mengintip
berkilau cahaya
dialah detik
burung kecil
yang mengantar tanda
dari depan wat panan cheung.

 

 

 

 

 

 

 

Amstelveen.

 

Cuaca akan makin buruk

begitu kata laporan meteorologi di televisi.

Malam itu kita harus

meluncur ke Amstelveen

sebelum esoknya  kita kembali pulang.

Di rumah yang asing

 

kita hampir pingsan ketakutan

Secangkir teh hangat wangi

mengantar kita ke peraduan.

Dipagi yang cepat datang

kita terbangun oleh salju yang turun di halaman

Dari kaca jendelah kita lihat

sungai kecil sudah putih membeku di depan

Dan saat jari menyentuhnya

Ada sesuatu yang bergetar dalam…

Di ujung perjalanan yang nyaris kelabu

tiba-tiba kita temui ‘salju’ yang dulu

pernah kita rindu.

 

 

 

 

 

Fat Kee

Angin malam dingin menggigit

berjubel kita dalam kendara

Celoteh dan tawa menghambur

menghalau gigil di luar sana.

Meluncur kita di atas tol sepi

Lampu jalan pun enggan berekspresi

Saat itu kucoba mereka-reka

dan mendengar lirih suara,

tapi sia-sia.

Di Fat Kee kita berhenti

Kau memesan cah kangkung

dan segelas orange juice

temaram lampu tiba-tiba

menyibakan tabir rahasia

Mereka menangkap cahaya

yang menerobos menerangi

sekitar kita.

Kalau saja engkau tahu

Warna merah taplak meja

luntur di wajahku

Kalau saja engkau dengar

suara bertalu-talu gundah memukul hatiku

Tapi ah…betapa dingin cuaca saat itu

Mungkin juga telah membekukan

hatimu jauh kala kita baru bertemu.

 

 

 

 

Pergi

tak ada yg perlu digenggam

dalam kesementaraan

dan burung kecil itu pun

terbang

cicit cuitnya riang

walau dia sudah menghilang

dari pandangan.

 

 

 

 

Pyrenees  Belleville

Metro nomor sebelas jurusan Marie de Lilas belum juga tampak.
menunggu di tengah keterasingan telah jadi biasa di
Paris yang hingar bingar.

Bangunan rococo, museum Louvre, bangku taman Tuileries,
trotoar Champ Elysees atau secangkir kopi hangat
di café seberang Lafayette adalah sepenggal ingatan
akan sisi kota ini.

Udara dingin mengigit, namun matahari cerah berpijar
Sebentar lagi kita sampai  di Trocadero: ada Eifel yang indah,
pun bianglala yang menjulang di lengkung langit.

Ah, roda metro terus bergulir…
Stasiun Rambuteau, Chatelet, Hotel de Ville, Republique,
terus saja berlalu…
Dari kaca jendela hanya tampak asa yang hilang…
Bayang yang berlari sendirian…
Paris mungkin tak lagi seperti dulu
Ia kini begitu sarat sunyi dan luka.

Bunyi gerendel  pintu
tiba-tiba menghentak menyadarkan bahwa kita
harus turun di Pyrenees Belleville,
stasiun terakhir tempat kita pulang
ke rumah yang kusam.

 

 

Reading

Stasiun kota kecil ini
tak lagi asing
Dilempar ketidakpastian
platform kereta juga jadi biasa
kecuali kopi pahitnya
yang tak pernah bisa tertelan
apalagi menghangatkan
jiwa yang kedinginan.

 

 

 

 

 

 

Tuileries Park

 

Hujan baru saja turun
mempermainkan rencana
kita hari itu di samping
istana Louvre.

Saat kita menyebrang jalan
kita temukan
Jardin de Tuileries

Jajaran pohon
kursi taman
kolam
unggas putih berenang
bayang menara Eifel
sepasang kekasih…
sinar matahari
adalah detak jantung
yang menghangati
taman Tuileries
yang pias dan beku…

 

 

Bayang

Mengapa sulit mencari wajahmu di tumpukan hari.

Melulu hanya angin dari jauh yang berdesir…

Membawa nyanyian lirih dan gambar buram.

Kuingin menepisnya, tapi angin itu selalu membawanya kembali.

 

 

 

Hujan

Tangan-tangan hujan menari memulai hari

Daun-daun berjatuhan

Kabut menghalangi jalan

Aku terperangkap dalam butir-butir air yang mengembun.

Samar di depan

Hanya meraba lewat kaki hari

Namun begitu, baru kutahu

tak selalu mendung itu kelabu

Ikuti saja semesta membawa

Lalu aku pun mendengar

nyanyian hujan memenuhi udara.

 

 

 

 

 

 

Bujuk

Memasuki  sebuah  dunia  yang asing

Dan sungguh tak terbayangkan

Cap yang melekat  begitu gulita

Tak ada perlawanan sama sekali

Dorongan apa yang telah menuntun

ke sini?

 

Degup yang tak terbaca dan  …

sepertinya  baginya sudah jadi biasa

Di sini pun terbawa ritme

Meraba dan menebak dalam ketidaktahuan

Seperti boneka yang ditarik tali

Ada sensasi

Gelegak

Pacu

Deru

Sesuatu yang bukan semata teori

Semua bercampur aduk dalam rasa yang tak teridentifikasi

 

 

 

 

 

Sebuah Episode.

Dan hari ini

Mengapa tanya baru muncul

Apa yang telah terjadi?

Sebuah episode  yang merobohkan gunung es

Menghancurkan  paradigma  berkarat

Kini pun masih juga belum melihat

Mana yang sebenarnya?

Dan mana yang atas nama pembenaran?

 

Ke mana aku yang  dalam buku?

Ke mana aku yang  tinggal di angkasa  angan?

Akhirnya semua runtuh dalam kenyataan

Ditarik keluar oleh waktu

Terjun bebas

Merasakan  dentuman dahsyat

Pecah berkeping

Dan berjelaga..

 

Hidup menjadi manusia dengan

kaki menjejak bumi.

 

 

 

 

 

Sampah

Hari ini adalah nyata

Malas bertanya lagi

Malas menganalisa

Jalan saja mengikuti titah semesta

 

Tak ada yang dituju

Tak tahu harus ke mana

Nikmati saja

 

Anggap sebuah pemberhentian

dengan  suguhan yang lain

Meneguk rasa dengan ikhlas

tanpa harus ada kesal dan sesal

 

Tak usah lagi berpikir tentang

kenaivan

kebodohan

Terima saja sebuah pengalaman

ntah berharga, ntah hanya sampah belaka

Karena mungkin semua memang sudah waktunya.

 

 

 

 

 

Sarang

 

Aku punya sarang yang hangat

Kubangun puluhan tahun

dengan keringat dan cinta

 

Kutanam semua yang ada di sana

dengan perhatian dan kasih sayang

Perlahan tumbuh, meninggi, dan hampir berbunga

 

Namun  waktu telah  lama menimbunnya

ikatan yang kupunya terasa melonggar

Setiap hari aku melihat menu yang sama

juga warna yang tak  ada beda

Tanpa kusadari aku terjerat dalam  kubangan bosan

Otakku penuh

Batinku sesak

 

Aku butuh berjalan  ke luar

Mungkin sudah berapa halte aku singgahi

Aku mencari pelangi

Aku butuh adrenalin

 

Tiba-tiba ….

langkah-langkah masa silam  menuntuku

pada sebuah oase…

Aku seperti menghirup udara yang lain

Mencium wangi yang yang tak sama

Aku seperti terjun dalam ekstase

 

 

Namun…

dalam mabukku bukan berarti aku lupa semua

Sarangku adalah segalanya

Bahkan aku tak pernah bisa lama meninggalkannya

Aku selalu merindukan bila jauh darinya

Karena akulah raja

Dan….itu adalah kerajaanku!

 

 

 

 

 

Lari

 

Kutinggalkan pagar yang putih

Biara yang suci

Aku berlari merasakan

hujan yang jatuh dari langit

Bermain dalam kubangan lumpur

Tertusuk-tusuk ilalang dan duri

Kulitku gesang terbakar matahari

Kini aku merasakan semuanya

Apa yang  dulu kubaca dan hanya

kupandangi dari balik jendela

Apa yang kucari?

Aku hanya mengikuti  kata hati

Dan mendengar genta  semesta

yang lirih berbunyi

Apakah ini intuisi atau ilusi?

Aku tak peduli.

 

 

Jawaban

 

Terjerat dalam  bimbang di sore yang mendung

Duduk di cafe dengan segelas  ice honey limonade

Memandang kaca dengan pikiran melayang

Ada pinta yang terus mendesak

Membuat goyah.

 

Hujan mengguyur jalan

Belum juga berani memutuskan

Tak henti jua mengejar

Akhirnya meluncur juga kata yang dia tunggu.

 

Seperti kerbau dicocok hidung mengikutinya

Menyusuri jalan dan tempat yang sama.

Gelegak dan  suara asing yang muncul dalam diri

Seperti  air hujan yang mengguyur padang

Bak  duri ilalang yang  menusuk  telapak kaki  di batuan

 

Berjalan berteman bulan

Sering diam dan tergugu

Masih juga berjarak

Bahkan merasa hanya jadi hiburan

Mencari damai dan tenang…

 

Terguncang.

Di depan perapian kita berkumpul

Dentang jam telah berbunyi dua kali

Tapi kantuk tak juga datang

Cerita makin memanjang

Sampai pada doorpriza ka-be-er-i

Terbang berdua ke Paris

 

Jantung tiba-tiba berhenti

Terbayang tubuh terkapar

di rel kereta api

Bunyi peluit panjang makin kencang

Seirama denyut hati yang terguncang.

 

Gelap makin membungkus malam

Apa bedanya tangis dan salju yang turun

di negeri dingin seperti itu

Sementara ia tengah bernyanyi

riang di pelukan sinar bulan

Tak peduli telah berapa banyak

musim berganti

 

Bentuk kejujuran apa lagi

yang sempat terkuak

Seekor burung hinggap

di ranting kayu

Kereta angin berdiri sendiri

di belakang flat yang sepi

Tak seorang pun menyadari

kesamaan yang tengah terjadi.

 

 

 

Lara

Ketulusan

Jalinan harapan

membentang seluas samudra

 

Sejumput kenangan

terus membayang

Gelisah jadi denyut nadi

 

Hari pun terus berlari

Berita dan naluri dibutatuli

 

Ketika tiba harinya

Sampai juga langkah ke sana

Langit  tak pernah bermatahari

Dahan kering merunduk beku

 

Flat kita saling bersebrangan

Lewat sungai dan jalan trem kereta api

Malam tak berbintang

Udara menyergap

Dingin tak tertahankan

Di balik kaca berembun

Kubaca nama jalan

yang amat kukenal

 

Sepi

Gelap

yang kutangkap

Nyata sudah

di sini, di sana

tak ada beda

lalu buat apa perjalanan menyebrang samudra

Bila hanya ada letih dan nelangsa?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.