Puisi-Puisi MARIA PRANADI

0

Lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia ini bagaikan ibu bagi Ikatan Sastra Indonesia (IKSI) FSUI 1979. Dia tergolong penikmat sastra yang kritis dan setia.  Sikapnya yang supel, membuatya mudah bergaul dan disenangi. Syair-syairnya cenderung  romantis.

Berlabuh Kembali

 

Aku ingin seperti dirimu

Aku ingin seteduh jiwamu

Walau diam, lautan kasih

Melembutkan hati dan pikiran

 

Aku ingin seperti dirimu

Aku ingin seteguh hatimu

Walau gamang, riak-riak cinta

Tetap menjentikan harapan dan keyakinan

 

Seribu makna kau beri tuk seribu insane

Sejuta kasih kau semai tuk menanti lisan

 

Aku ingin seperti dirimu

Aku ingin sekuat tekatmu

Walau jauh berlayar, satu tujuanmu

Berlabuh kembali

 

Kupu-kupu

 

Kau cari dan mencari

di antara dedaunan hijau royo-royo dan dedaunan kering  lisut.

Semua penuh tepian; tepian yg menyelamatkan dan tepian yang menyesatkan.

Kepakmu  gigih mencari dan merengkuh madu sejati.

Berlomba terbang pendek dan tinggi  dalam harmoni.

Berlomba hirup kiri dan kanan tanpa terluka.

Melayang, meliuk bagai sebuah tarian, menciptakan bayang indah di mata.

 

Kuning, putih, abu-abu, belang, bintik-bintik,  berkelompok,engkau terbang menantang keraguan.

Lepas, riang tanpa suara menepis kemarau panjang,  menyambut wangi bunga sehabis hujan.

 

Besar, kecil, mungil, unik, engkau  mempesona mengantar beribu makna.

 

SUAMIKU

 

Genggaman tanganmu datang menawarkan satu janji saja.

Tidak muluk-muluk dan tidak romantis.

Dan aku terperangkap.

 

Ucapanmu sangat terbatas tapi olah lakumu menembus lautan kalbuku.

Semangat juang dan cintamu, kau olah dalam serumpun tanggung jawab.

Engkau anti berpanjang kata tapi berkawan dalam doa.

Hati dan jiwamu selalu siap mengantar selaksa kebahagiaan.

Cintamu bagi keluarga adalah segalanya untukku.

Kearifanmu mengajarkan aku dan anak2mu menjadi insan yang hidup dan dinamis.

Suamiku, aku ikut langkahmu hingga seratus tahun dan akhir bumi berputar.

 

 

Mengapa Kau Curi Matahariku

 

Sepanjang hari air dari langit jatuh berirama keras menghantam bumi

Rona kelabu awan mencuri matahari … gelap menghitam.

Tanah kering merekah menyambut riang, was-was, dan akhirnya pasrah

 

Dingin berselimut basah mengantar sanubari pada sebuah kerinduan.

Hai…mengapa kau curi matahariku?

Engkau menatap dengan seringai senyum.

Bukankah kau mendamba pelukan dingin dan eksotis?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.