Solusi Pengganti Lima Hari Sekolah

Gagasan Prof Dr. Sumaryoto, Rektor Unindra

0

Porosmasyarakat.com. Jakarta, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengambil sikap terkait kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dengan menerapkan full day school di seluruh Indonesia yang menuai prokontra.Apa solusinya?

“Begini, jadi perlu saya tegaskan, perlu saya sampaikan bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah ya, jadi tidak ada keharusan full day school,”ujar Jokowi belum lama ini di Istana Merdeka Jakarta.

Sementara itu Prof.Dr.Sumaryoto mengatakan rencana penerapan kebijakan full day schooll dinilai sah-sah saja sepanjang memenuhi tiga aspek yaitu kebutuhan, kondisi sekolah dan psikologis anak. Pasalnya, masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat dinamik seiring dengan perubahan kehidupan kebudayaan manusia yang melekat dengan kebutuhan manusia. Hal ini dikemukakan praktisi pendidikan.

  1. “Sepanjang memenuhi 3 aspek tadi yaitu kebutuhan, kondisi sekolah, dan psikologis anak, saya kira sah-sah saja.” ujar Prof Dr. Sumaryoto Rektor Universitas Indrapasta (Unindra) ketika ditemui POROSMASYARAKAT.COM,dikantornya,pada Rabu (16/08/2017).

Dikatakan Sumaryoto soal full day school ini, pertama kita lihat kebutuhannya, kalau di kampung ya tidak perlu lagi, apalagi orangtuanya ada di rumah. Jadi jangan sampai menghambat kebebasan anak. Tetapi kalau di kota yang sebagian besar ibu rumah tangganya bekerja, kebijakan full day school ini bisa menggantikan posisi orang tua. Tetapi itu juga harus hati-hati karena peran guru dan orang tua itu berbeda dari segi kedekatan psikologis maupun emosional .

 

 

 

Kedua, kondisi sekolah. Sebagaimana kita ketahui, saat ini sekolah ada yang masuk pagi dan siang dengan rombongannya berbeda. Kalo misalnya di fullkan, yang sore bagaimana? sementara ada siswa yang belajar TPA yang dibutuhkan oleh siswa beragama islam, mungkin yang non muslim tidak ada masalah.

Ketiga bicara psikologis anak. Mengapa anak sekarang itu keras dan radikal, itu juga adanya pengaruh baik pengaruh lingkungan maupun pengaruh kemajuan teknologi. Maka menangani anak harus hati-hati. Daripada liar diluar dengan pergaulan yang tidak jelas, ya memang ada baiknya jika kebijakan tersebut diterapkan.

“Jadi selama menjadi kebutuhan ya silahkankan saja, tetapi jangan memaksa pola yang sudah berjalan. Dalam menerapkan kebijakan itu harus lihat apakah kebijakan tersebut dibutuhkan atau tidak. Kalau tidak ya jangan dipaksa.” terangnya.

Lebih lanjut Sumaryoto mengatakan jadi lebih manfaatnya bagi yang membutuhkan, kalau yang tidak membutuhkan malah jadi mudharat. “Oleh karena itu, Permendikbud seharusnya melihat kriteria dalam penerapannya,”tandasnya.(han)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.