Rintihan Sekolah Dasar Indonesia

75 Persen Sekolah Dasar Di Bawah Standar

0


Porosmasyarakat.com. Sewaktu masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan.
“Menilik hasil pemetaan kualitas pendidikan dari lembaga survei, kita seperti tidak memiliki semangat berjuang (dalam pendidikan),” kata Anies di hadapan Kepala Dinas Pendidikan seluruh Indonesia di Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12).
Anies mengatakan lembaga survei solusi pendidikan internasional Pearson menempatkan Indonesia pada peringkat 40 dari 40 negara dalam pemetaan kualitas pendidikan yang dilakukan lembaga tersebut.
Tak hanya itu, lembaga Pearson, kata Anies, juga menyebutkan kompetensi pendidik dan peserta didik di Indonesia juga masih rendah.
“Nilai rata-rata uji kompetensi guru hanya mendapat 44,5 dari target 70,” kata Anies.

Selain lembaga Pearson, kualitas pendidikan di Indonesia yang buruk juga dipaparkan oleh lembaga survei PISA atau organisasi pemetaan internasional.
Anies mengatakan PISA menempatkan Indonesia pada peringkat ke 64 dari 65 negara. Data PISA mengungkapkan kemampuan siswa Indonesia yang lemah dalam bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Indonesia.
“Tren kinerja Indonesia pada pemetaan PISA stagnan dalam satu dekade,” kata Anies.
Selain persoalan kemampuan pendidik dan tenaga didik, mantan Rektor Universitas Paramadina ini juga menyinggung tentang angka kekerasan di sekolah yang tinggi. Selama dua bulan terakhir, kata Anies, telah terjadi lebih dari 230 kekerasan yang dilakukan di luar ataupun dalam sekolah.
“Sekolah di Indonesia masih jauh dari tempat yang aman dan damai,” kata dia.

Melihat kondisi tersebut, Anies kemudian mengimbau kepada para Kepala Dinas Pendidikan yang hadir dalam acara tersebut untuk melakukan perubahan. “Mari kita melihat ini sebagai sesuatu yang mendesak. Fakta ini pahit tapi harus kita ungkapkan. Kalau tidak kita buka, kita akan merasa nyaman terus tak pernah berubah,” ujar Anies.

Sejumlah sekolah di Indonesia terutama di desa-desa terpencil, memang bukan hanya kekurangan tenaga pendidik, akan tetapi juga kekurangan sarana fisik yang lain, seperti WC dan musalla dsb. Akibatnya banyak sekolah yang sulit mencapai akreditasi dengan nilai tinggi atau hanya akreditasi C.

Contohnya di Inderagiri Hulu Riau. “Sekolah di desa terpencil bukan hanya kekurangan tenaga guru, melainkan sarana pendidikan juga masih sangat minim,” ujar anggota DPRD asal Kecamatan Rengat Barat, Agusriyono, dalam pertemuan dengan Kadis Dinas Pendidikan Inhu di Kantor DPRD baru-baru ini.

Menurutnya perlu perhatian yang sangat serius dalam meningkatkan sarana pendidikan, sehingga mampu menunjang kualitas pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu ia berharap ke depan perhatian terhadap pendidikan lebih diutamakan, sebagai wujud komitmen pemerinatah dalam meningkat SDM di Indonesia.

Berdasarkan data yang ada saat ini sebut Agusriyono, rata-rata sekolah dasar di Inhu baru akreditasi dengan nilai C. Ini disebabkan karena dinilai kurangnya sarana penunjang. Seperti musalla dan toilet. “Ini harus diprogramkan, sehingga sekolah di Inhu rata-rata bisa mencapai akreditasi A atau nilai tertinggi,” ujarnya lagi seperti dilansir riaupos.

Dalam pada itu Kadis Pendidikan Drs Asriyan membenarkan, rata-rata sekolah di Inhu baru mencapai akreditasi C, karena masih ada kekurangan sarana penunjang. Salah satu sekolah yang sudah mencapai akreditasi A adalah pesantren Khairul Ummah di Air Molek, Kecamatan Pasir Penyu.

Pihaknya akan berupaya meningkatkan sarana pendidikan, baik gedung sekolah ataupun sarana lain, sehingga nilai akreditasi sekolah bisa lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sementara untuk peningkatan sarana pendidikan di desa-desa terpencil sudah diprogramkan. Pada 2013, peningkatan tersebut akan dilaksanakan sesuai kemampuan keuangan daerah.

Sebelumnya Kepala Bappeda Inhu Isdjarwadi SE MP kepada mengatakan, pendidikan termasuk salah satu program prioritas, di samping program lain. Termasuk juga untuk penambahan sarana sekolah.(tm02)(inhusatu.com)

Menurut saya, pendidikan yang merupakan hal terpenting dalam membentuk karakter putra – putri bangsa, harus memiliki tempat yang nyaman dalam proses belaja mengajar. Dari segi ruang kelas, toilet, musholah dsb. Tapi kenyataannya, masih banyak sekolah – sekolah di daerah luar ibu kota yang masih memiliki gedung tidak layak pakai atau gedung yang masih minim fasilitasnya, seperti halnya wacana diatas. Ini merupakan satu catatan penting bagi pemerintah pusat untuk memperhatikan kondisi pendidikan di luar daerah ibu kota sehingga tidak ada lagi ditemukannya daerah-daerah yang tergolong tertinggal, terbelakang, dan belum tersentuh oleh pelayanan pendidikan yang layak dan memadai.

Kita harus membangun semangat anak-anak Indonesia untuk memiliki rasa bersekolah yang tinggi dan mengambil sikap yang nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, terutama anak-anak bangsa yang terhimpit dan terlantar di balik deratan bukit dan lembah atau yang berada di daerah yang terisolir dan tertinggal.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.