Benturan Karena Agama

0

 

Priyono B. Sumbogo
Suatu kali John Lennon menganggap The Beatles lebih terkenal daripada Yessus Kristus atau yang di daIam Al-Quran dinamakan  Nabi Isa Alaihisallam. Tentu saja pemeluk Nasrani marah. John dan anggota The Beatles pun dicap sesat dan antikristus.
Pemeluk Islam di Indonesia juga pernah keberatan bila tembang “imagine” didendangkan, karena secara sepintas liriknya bertentangan dengan keyakinan agama. Pada bait pertama Lennon – pencipta dan pelantun Imagine–  John berdendang Imagine there’s no heaven. Bayangkanlah tak ada sorga. No hell below us. Tiada neraka di atas kita. Above us only sky. Di atas kita hanyalah angkasa.
Lirik bait pertama tersebut – sebagian tak dikutip di sini – memang tak sejalan dengan keyakinan Islam. Juga keyakinan semua agama. Semua orang Islam, baik yang shalatnya tekun atau malas-malasan, amat percaya bahwa di luar kehidupan dunia, yakni di seberang kematian, ada sorga dan neraka. Ada ganjaran menyenangkan bagi penganut teguh, dan ada hukuman menyakitkan bagi kaum berdosa.
Namun acapkali agama justru mendatangkan duka. Sejumlah anggota polisi tewas dibom atau ditikam oleh orang yang meyakini polisi adalah thoghut, penyembah sesuatu selain Tuhan. Sejumlah orang ditembak atau ditangkapi oleh polisi dengan tuduhan pengikut gerakan yang berbendera agama.
Nun jauh di sana, dulu dan kini, Presiden Amerika Serikat menyebut “Setan” pada Saddam Hussein maupun almarhum Ayatullah Khomeini. Amerika senantiata menggembar-gemborkan Irak dan Iran sebagai poros kejahatan (axis of evil) penyemai terorisme. Sebaliknya Ayatullah Khomeini menamakan Amerika adalah Setan Besar.

Dunia terbelah menjadi peradaban Barat (Kristen) dan Timur (Islam), persis sebagaimana diramalkan oleh John Naisbit. Kemudian pecahlah The Clash of Civilation and The Remaking of World Order, seperti diungkap dalam buku Samuel P. Huntington. Huntington menulis bahwa musuh terbesar peradaban Barat pasca perang dingin adalah Islam. “Problem yang mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme Islam, tetapi adalah Islam itu sendiri, sebagai sebuah peradaban yang penduduknya meyakini ketinggian kebudayaan mereka dan dihantui rendahnya kekuatan mereka.” Begitu antara lain tulis Huntington.
Tesis utama kedua pemikir masyhur tersebut adalah “agama sebagai pembangkit perbenturan umat manusia”. Suatu tesis yang meragukan agama sebagai pemersatu, perekat, penyemai kasih sayang, dan jalan menuju kebahagiaan.
Naisbit dan Huntington mungkin hanyalah penerus dari tesis-tesis antiagama yang pernah ada. Sebelum Huntington lahir, Karl Marx telah menyimpulkan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Bahkan Karl Marx menganggap negara-negara adalah kotak-kotak yang memisahkan manusia dalam kelas-kelas penuh konflik. Marx pun memimpikan dunia tanya negara (stateless) agar bumi bebas dari konflik (conflictless).
Dan John Lennon melantunkan tesis-tesis itu di dalam bait kedua tembang imagine.
Imagine there’s no countries,
It isn’t hard to do,
Nothing to kill or die for,
And no religion too,
Imagine all the people
living life in peace
You may say I’m a dreamer,
but I’m not the only one,
I hope some day you will join us,
And the world will be as one

 

Bayangkanlah dunia tanpa batas-batas negara. Tak sulit memimpikannya. Tak ada kematian dan pembunuhan atas nama negara. Tak ada agama. Karena impian seluruh umat manusia adalah hidup dalam damai. Kau mungkin menganggapku pemimpi, tapi aku bukan satu-satunya. Aku berharap suatu hari kau bergabung denganku, dan dunia akan menjadi satu.
Impian Marx dan John Lennon sepertinya memang hanya akan hidup dalam impian. Manusia telah ditakdirkan berkelompok-kelompok dalam bentuk peradaban maupun negara. Manusia juga tak pernah terbebas dari konflik dan benturan, karena konflik, benturan, dan pukulan justru menggerakkan kehidupan.
Aneka agama pun akan dan harus tetap ada. Tetapi agama harus dianggap bukan batas untuk memisahkan manusia. Bukan pula untuk memicu perang dan kebencian. Tesis Naisbit dan Huntington akan runtuh dengan sendirinya bila suatu agama dijadikan sarana untuk mengenal agama lain. Bila pemeluk Islam menyapa dengan lembut penganut Nasrani atau agama lain. Bila pemeluk Nasrani menyampaikan senyum pada kaum muslim atau agama lain. Bila semua pemeluk agama meyakini bahwa agama-agama adalah jalan untuk menyayangi, menghormati, merancang kebaikan, dan cara menuju sorga. Karena di seberang dunia, semua ruh akan menemui Tuhan yang sama.
Kalaupun suatu kali terpaksa memukul atau berperang, pukulan dan perang itu bukan ditujukan kepada orang Nasrani atau Islam, melainkan pada orang atau kelompok yang melanggar kemuliaan agama. Orang Islam mungkin terpaksa menghukum orang Islam yang menciderai orang Nasrani. Orang Nasrani suatu hari mungkin pantas memenjarakan pemeluk Nasrani yang melukai orang Islam. And the world will be as one.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.